Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis desain lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain).
Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak.
Batasan Media
Desain grafis pada awalnya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia.
Batas dimensi pun telah berubah seiring perkembangan pemikiran tentang desain. Desain grafis bisa diterapkan menjadi sebuah desain lingkungan yang mencakup pengolahan ruang.
Prinsip dan unsur desain
Unsur dalam desain grafis sama seperti unsur dasar dalam disiplin desain lainnya. Unsur-unsur tersebut (termasuk shape, bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna) membentuk prinsip-prinsip dasar desain visual. Prinsip-prinsip tersebut, seperti keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi ("proportion") dan kesatuan (unity), kemudian membentuk aspek struktural komposisi yang lebih luas.
Peralatan desain grafis
Peralatan yang digunakan oleh desainer grafis adalah ide, akal, mata, tangan, alat gambar tangan, dan komputer. Sebuah konsep atau ide biasanya tidak dianggap sebagai sebuah desain sebelum direalisasikan atau dinyatakan dalam bentuk visual.
Pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang untuk melihat hasil dari tata letak atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.
Seorang perancang grafis menggunakan sketsa untuk mengeksplorasi ide-ide yang kompleks secara cepat, dan selanjutnya ia memiliki kebebasan untuk memilih alat untuk menyelesaikannya, dengan tangan atau komputer.
Daftar Software Desain Grafis
Ada beberapa software yang digunakan dalam desain grafis:
Desktop publishing
* Adobe Photoshop
* Adobe Illustrator
* Adobe Indesign
* Coreldraw
* GIMP
* Inkscape
* Adobe Freehand
* Adobe image ready
* CorelDraw
Webdesign
* Macromedia Dreamweaver
* Microsoft Frontpage
* Notepad
Audiovisual
* Adobe After Effect
* Adobe Premier
* Final Cut
* Adobe Flash, atau sebelumnya Macromedia Flash
Rendering 3 Dimensi
* 3D StudioMax
* Maya
* AutoCad
Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak.
Batasan Media
Desain grafis pada awalnya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia.
Batas dimensi pun telah berubah seiring perkembangan pemikiran tentang desain. Desain grafis bisa diterapkan menjadi sebuah desain lingkungan yang mencakup pengolahan ruang.
Prinsip dan unsur desain
Unsur dalam desain grafis sama seperti unsur dasar dalam disiplin desain lainnya. Unsur-unsur tersebut (termasuk shape, bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna) membentuk prinsip-prinsip dasar desain visual. Prinsip-prinsip tersebut, seperti keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi ("proportion") dan kesatuan (unity), kemudian membentuk aspek struktural komposisi yang lebih luas.
Peralatan desain grafis
Peralatan yang digunakan oleh desainer grafis adalah ide, akal, mata, tangan, alat gambar tangan, dan komputer. Sebuah konsep atau ide biasanya tidak dianggap sebagai sebuah desain sebelum direalisasikan atau dinyatakan dalam bentuk visual.
Pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang untuk melihat hasil dari tata letak atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.
Seorang perancang grafis menggunakan sketsa untuk mengeksplorasi ide-ide yang kompleks secara cepat, dan selanjutnya ia memiliki kebebasan untuk memilih alat untuk menyelesaikannya, dengan tangan atau komputer.
Daftar Software Desain Grafis
Ada beberapa software yang digunakan dalam desain grafis:
Desktop publishing
* Adobe Photoshop
* Adobe Illustrator
* Adobe Indesign
* Coreldraw
* GIMP
* Inkscape
* Adobe Freehand
* Adobe image ready
* CorelDraw
Webdesign
* Macromedia Dreamweaver
* Microsoft Frontpage
* Notepad
Audiovisual
* Adobe After Effect
* Adobe Premier
* Final Cut
* Adobe Flash, atau sebelumnya Macromedia Flash
Rendering 3 Dimensi
* 3D StudioMax
* Maya
* AutoCad
Wujud-wujud desain grafis dapat dengan mudah ditemui di mana-mana. Brosur, surat kabar, surat-surat tagihan, kartu kredit, tagihan listrik, uang, halaman Facebook, twitter, di BB, di iPad, iklan majalah, billboard, rambu lalu lintas, logo, pada papan nama restoran, pada bungkus permen, pada kartu nama, dan lain-lain, semua itu adalah wujud desain grafis yang sering dijumpai. Kalau diperhatikan, rata-rata diterapkan dalam bidang datar (dua dimensi*).
Semua benda itu fungsinya untuk berkomunikasi,
menyampaikan identitas dan pesan dari suatu pihak ke pihak lainnya.
menyampaikan identitas dan pesan dari suatu pihak ke pihak lainnya.
Contohnya sebuah billboard berisi Iklan sepeda motor, bertujuan untuk:
menyampaikan identitas dan pesan ajakan dari si produsen kepada masyarakat: “ayo beli motor ini, gesit, irit”.
menyampaikan identitas dan pesan ajakan dari si produsen kepada masyarakat: “ayo beli motor ini, gesit, irit”.
Supaya dapat ditangkap lebih cepat dan tepat oleh target audience**, maka pesan-pesan yang berupa teks, gambar, foto, maupun elemen lainnya itu diberi identitas, ditata letaknya, diberi warna dan atribut lain yang menarik perhatian, itulah desain grafis.
Sedangkan Desainer Grafis adalah pelaku desain grafis, yang mewujudkan / menerjemahkan pesan-pesan (abstrak) tersebut ke dalam wujud (kongkrit) yang bisa dilihat, dipegang dan dirasakan.
Jadi posisi desainer grafis adalah sebagai jembatan antara pihak pengirim pesan (klien, atau bisa juga dirinya sendiri) dan pihak penerima pesan (target audience).
*Dua Dimensi (2D): hanya memiliki dimensi panjang dan dimensi lebar (bidang datar), kalau Tiga Dimensi (3D) memiliki dimensi panjang + lebar + kedalaman, berarti memiliki volume / ruang.
Contoh 2D: brosur, billboard, koran. Contoh 3D: bolpen (desain produk), ruang tidur (desain interior), pakaian (desain fashion).
**Target Audience / target group: sekelompok orang tertentu yang menjadi sasaran komunikasi.
Yogyakarta - Untuk pertama kalinya, Stars and Rabbit - dibentuk oleh Elda Suryani dan Adi Widodo - merilis suvenir mini pertunjukan terbaru mereka sebagai duo. Dengan band pengiring, Elda (pada vokal) dan Adi (gitar akustik) disajikan esensi dari Stars and Rabbit, dalam sebuah acara yang bernuansa intim, energik, dan penuh perasaan.
Kinerja yang unik ini sekarang ada di Stars and Rabbit di album live pertama berjudul Live At Deus.
Berada di tur adalah hal yang paling umum untuk melakukan sebagai sebuah band, tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mengakhirinya di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Setelah selesai manggung terakhir mereka di "Suara Tujuh Nada" tur awal tahun ini, Bintang dan Kelinci tinggal di Bali selama beberapa hari dan mengatur mini konser mereka sendiri di Deus Ex Machina, Kuil Antusiasme.
Ini adalah Stars and Rabbit waktu kedua bermain di Deus, setahun setelah penampilan terakhir mereka. Stars and Rabbit membuat 11 lagu dari album debut studio mendatang mereka dan mencatat kinerja mereka, tetapi pada akhirnya, mereka memutuskan untuk melepaskan hanya 5 lagu dari itu. Stars and Rabbit telah terus mengumpulkan video untuk pujian lagu.
Adi menjelaskan, "Ini adalah pertama rekaman live pernah resmi Stars and Rabbit. Tidak ada rencana tertentu. Mungkin ini adalah cara kami bertanggung jawab untuk menjaga diri kita produktif ... sementara kita menyelesaikan album studio kami. Kami hanya tidak ingin membiarkan mereka (fans) turun karena menunggu lama mereka untuk lagu baru. Live at Deus, dari mana rekaman ini diambil, telah menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kami, dan juga acara yang mengesankan dan emosional bagi Stars and Rabbit 'fans. Sebagai hasilnya, kami ingin merayakan acara dengan souvenir untuk semua penggemar Stars and Rabbit yang selama ini ada untuk kami. Sementara kami mulai tur dengan beberapa kekhawatiran tentang tidak memiliki band dengan kami, kami segera menyadari bahwa format itu sangat sukses (bagi kita dan bagi penonton). "
"(Ada) tidak ada yang besar tentang album live. Kami hanya ingin santai berbagi dokumentasi terbaru kami dan memperkenalkan karya seni baru. Ada begitu banyak orang yang merasa melekat pada lagu-lagu kami, dan mereka (yang disebut fans) yang semakin besar dan itu melampaui harapan kami. Secara pribadi saya hanya ingin menyelesaikan album debut studio kami sesegera mungkin, tetapi kenyataannya adalah kita masih dalam proses mencari orang yang tepat untuk memainkan instrumen yang tepat. Orang-orang yang dapat menempatkan nada yang tepat, dan mampu membuatnya lebih hidup, dan itu tidak mudah, "kata Elda.
Live at Deus karya seni adalah tangan-dicat oleh Nady Azhry, seorang seniman grafis berbakat yang juga melakukan karya seni untuk debut album studio Stars and Rabbit. "Setelah mendengarkan musik mereka, melihat live performance mereka, dan berbicara dengan mereka, aku interpretasi tentang mereka, yang merupakan cerita bermakna perjalanan, emosi yang jujur mengalir dalam harmoni", kata Nady.
"Kami sangat beruntung memiliki karya seninya. Menjadi penulis lagu, aku dan dia melakukan banyak berbagi tentang hal itu. (Kami berbagi tentang) cerita di balik lirik, hubungan antara karya seni dan nada musik atau getaran, dan ternyata bahwa ia memiliki interpretasi yang menakjubkan yang benar-benar menggambarkan kami, "kata Elda.
"Untuk melepaskan bahan hidup adalah hal yang harus mereka lakukan, karena dari sudut pandang saya, itulah kekuatan mereka. Melihat mereka melakukan hidup akan membuat Anda menyadari, betapa berbedanya musik mereka, "tambah Nady.
Untuk pertama kalinya, Stars and Rabbit album 'Live At Deus' akan dirilis dalam format digital, dan itu tersedia untuk download gratis di bawah www.rollingstone.co.id situs Rolling Stone Indonesia. Untuk orang-orang yang ingin menghargai album ini, juga tersedia di pengecer digital seperti iTunes, Amazon, dll
--------
Summer Fall
Save me the best times of our life
I've seen you're with me..
I and all flowers cling to you till dawn
Kiss me on the midst of summer fall
meet me on the middle land of us
Ooo..
Take me run
run to the permanent laid
laid on our backs
between the deepest of your mind
I and all flowers cling to you till dawn
Kiss me on the middle land of us
meet me on the midst of summer fall
Kiss me on the middle land of us
meet me on the midst of summer fall
Ooo..
------
Live At Deus (Bali)
Produced by Stars and Rabbit
Recorded by Riva Pratama
All tracks mixed & mastered by Riva Pratama at Dagobah System
Artwork by Nady Azhry
Contact:
Riva Pratama
info@starsandrabbit.com
+62 8 1717 4111 / +62 813 1717 4111
More Informatioan:
http://www.starsandrabbit.com
Download Here
Kinerja yang unik ini sekarang ada di Stars and Rabbit di album live pertama berjudul Live At Deus.
Berada di tur adalah hal yang paling umum untuk melakukan sebagai sebuah band, tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mengakhirinya di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Setelah selesai manggung terakhir mereka di "Suara Tujuh Nada" tur awal tahun ini, Bintang dan Kelinci tinggal di Bali selama beberapa hari dan mengatur mini konser mereka sendiri di Deus Ex Machina, Kuil Antusiasme.
Ini adalah Stars and Rabbit waktu kedua bermain di Deus, setahun setelah penampilan terakhir mereka. Stars and Rabbit membuat 11 lagu dari album debut studio mendatang mereka dan mencatat kinerja mereka, tetapi pada akhirnya, mereka memutuskan untuk melepaskan hanya 5 lagu dari itu. Stars and Rabbit telah terus mengumpulkan video untuk pujian lagu.
Adi menjelaskan, "Ini adalah pertama rekaman live pernah resmi Stars and Rabbit. Tidak ada rencana tertentu. Mungkin ini adalah cara kami bertanggung jawab untuk menjaga diri kita produktif ... sementara kita menyelesaikan album studio kami. Kami hanya tidak ingin membiarkan mereka (fans) turun karena menunggu lama mereka untuk lagu baru. Live at Deus, dari mana rekaman ini diambil, telah menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kami, dan juga acara yang mengesankan dan emosional bagi Stars and Rabbit 'fans. Sebagai hasilnya, kami ingin merayakan acara dengan souvenir untuk semua penggemar Stars and Rabbit yang selama ini ada untuk kami. Sementara kami mulai tur dengan beberapa kekhawatiran tentang tidak memiliki band dengan kami, kami segera menyadari bahwa format itu sangat sukses (bagi kita dan bagi penonton). "
"(Ada) tidak ada yang besar tentang album live. Kami hanya ingin santai berbagi dokumentasi terbaru kami dan memperkenalkan karya seni baru. Ada begitu banyak orang yang merasa melekat pada lagu-lagu kami, dan mereka (yang disebut fans) yang semakin besar dan itu melampaui harapan kami. Secara pribadi saya hanya ingin menyelesaikan album debut studio kami sesegera mungkin, tetapi kenyataannya adalah kita masih dalam proses mencari orang yang tepat untuk memainkan instrumen yang tepat. Orang-orang yang dapat menempatkan nada yang tepat, dan mampu membuatnya lebih hidup, dan itu tidak mudah, "kata Elda.
Live at Deus karya seni adalah tangan-dicat oleh Nady Azhry, seorang seniman grafis berbakat yang juga melakukan karya seni untuk debut album studio Stars and Rabbit. "Setelah mendengarkan musik mereka, melihat live performance mereka, dan berbicara dengan mereka, aku interpretasi tentang mereka, yang merupakan cerita bermakna perjalanan, emosi yang jujur mengalir dalam harmoni", kata Nady.
"Kami sangat beruntung memiliki karya seninya. Menjadi penulis lagu, aku dan dia melakukan banyak berbagi tentang hal itu. (Kami berbagi tentang) cerita di balik lirik, hubungan antara karya seni dan nada musik atau getaran, dan ternyata bahwa ia memiliki interpretasi yang menakjubkan yang benar-benar menggambarkan kami, "kata Elda.
"Untuk melepaskan bahan hidup adalah hal yang harus mereka lakukan, karena dari sudut pandang saya, itulah kekuatan mereka. Melihat mereka melakukan hidup akan membuat Anda menyadari, betapa berbedanya musik mereka, "tambah Nady.
Untuk pertama kalinya, Stars and Rabbit album 'Live At Deus' akan dirilis dalam format digital, dan itu tersedia untuk download gratis di bawah www.rollingstone.co.id situs Rolling Stone Indonesia. Untuk orang-orang yang ingin menghargai album ini, juga tersedia di pengecer digital seperti iTunes, Amazon, dll
--------
Summer Fall
Save me the best times of our life
I've seen you're with me..
I and all flowers cling to you till dawn
Kiss me on the midst of summer fall
meet me on the middle land of us
Ooo..
Take me run
run to the permanent laid
laid on our backs
between the deepest of your mind
I and all flowers cling to you till dawn
Kiss me on the middle land of us
meet me on the midst of summer fall
Kiss me on the middle land of us
meet me on the midst of summer fall
Ooo..
------
Live At Deus (Bali)
Produced by Stars and Rabbit
Recorded by Riva Pratama
All tracks mixed & mastered by Riva Pratama at Dagobah System
Artwork by Nady Azhry
Contact:
Riva Pratama
info@starsandrabbit.com
+62 8 1717 4111 / +62 813 1717 4111
More Informatioan:
http://www.starsandrabbit.com
Download Here
Akhir-akhir ini ada banyak duo folk yang menarik di skena independen Indonesia, dan salah satunya adalah Stars and Rabbit. Terdiri dari Elda Suryani dan Adi Widodo, musik mereka membuat kita membayangkan seekor kelinci yang berdiri pada kedua kaki belakangnya di puncak bukit berumput hijau, menengadah pada bintang-bintang. Warna vokal yang kekanak-kanakan tapi kuat, permainan gitar yang sederhana namun mumpuni, serta curahan perasaan yang menghanyutkan pada jalinan liriknya menjadi ciri khas lagu-lagu Stars and Rabbit. Yang membuat mereka unik juga adalah bahwa mereka selalu menyuguhkan keindahan yang terpancar dari suatu bentuk kenaifan.
Mahkota bunga-bunga kuning masih bertengger di puncak kepala Elda ketika ia ditemui di ruang artis selepas pertunjukan yang meriah di “Sound of Aphrodite”, Sabtu (23/11). Keramahan dan gayanya yang lucu di atas pentas juga tidak hilang walau sudah turun panggung. Beberapa saat sebelumnya ia baru saja mempesona sekerumun penggemar, memainkan 45 menit musik yang ia nyanyikan dengan penuh perasaan. Ia menyanyi sambil mendekap erat tamborin dan memejamkan mata, sesekali memainkan maracas dan terus-terusan menari mengikuti perasaannya. Musik Stars and Rabbit, tarian tangannya yang mungil, dan lirik lagunya yang sedih, mengalun mengikuti gelombang hati seorang Elda yang mungil ini.
Dengan polos dan jujur berbagi suasana hati, mungkin itu salah satu kenikmatan yang dialami Elda dan Adi dalam bermusik. “Ketika kamu mendengarkan lagu itu dan kamu merasakan sesuatu, for me my mission accomplished.”kata Elda, sang penyanyi dan penulis lirik. Dia akan sangat puas jika lagu-lagunya yang bertemakan kehidupan cinta itu didengarkan orang dan orang tersebut jadi merasakan apa yang ia rasakan. Mungkin Elda dan Adi akan sangat bangga kalau ada yang mengaku mendengarkan “Worth It” saat jatuh cinta, memutar “You were the Universe” untuk menemani menangis saat patah hati, dan “Man up on the Hill” untuk mengenang cerita yang telah lalu. Menurut mereka, melihat sekerumunan orang ikut bernyanyi dengan sepenuh hati saat mereka manggung adalah penghargaan yang luar biasa. “I saw their happy faces dan itu priceless.” kata Elda mengomentari penonton yang baru saja mereka hibur di kampus FISIP Atma malam itu. “Itubooster yang luar biasa. Bikin kita selalu semangat lagi.”kata Adi.
Baru-baru ini mereka merilis “Live at Deus” via The Rolling Stones. Lima lagu tersebut disebarkan secara unduh gratis karena “…kami kan bukan band yang tiap bulan bisa manggung. Jadi biar temen-temen di kota lain,yang belum sempat kita datangi, juga kebagian lah.”kata Adi berbaik hati. “Live at Deus” terdiri dari lima lagu yang mereka mainkan di Deus, Bali, di sebuah gigs mendadak yang diadakan ketika mereka mendatangi pulau itu dalam sebuah tour Maret lalu. Sebenarnya rekaman lima lagu tersebut adalah dokumentasi biasa yang selalu mereka ambil ketika manggung. Kebetulan Wendy dari The Rolling Stones menyukai konsep mereka dan akhirnya merilisnya lewat platform unduh gratis di website majalah tersebut.
Setelah merilis EP live ini, mereka masih merasa punya PR untuk diri sendiri, yaitu merilis album mereka yang pertama. “Pertanyaan kapan albumnya keluar itu udah ngalahin pertanyaan kapan nikah deh,”kata Adi sambil terkekeh. “Kami ingin segera merilis album ini, tapi nggak mau terburu-buru juga. Karena ini album kami yang pertama, kami ingin semuanya sesempurna mungkin.”kata Elda. Menurut Adi, Elda lumayan rewel dalam hal pemilihanadditional player, padahal mereka ingin semua elemen dalam lagu mereka nanti rekaman sungguhan, bukan sekedar sampling.
Terkadang pemilihan additional player yang cocok dengan gaya bermusik Adi dan bisa membuat Elda nyaman mengharuskan mereka berkorespondensi dengan orang-orang dari luar kota. Hal ini menambah repot pola produksi mereka yang berlangsung di Jogja dan Jakarta. Memang, walau Adi sudah menetap di Jakarta, Elda lebih memilih mondar-mandir Jogja-Jakarta daripada tinggal lama-lama di sana. “Stress!”katanya menggambarkan kehidupan ibukota yang tak tertahankan baginya.
“Semuanya dikerjakan di Jakarta, soalnya sarana dan prasarana yang mumpuni ada di sana.” Kata Elda. Didit dari Dagobah Studio, orang di belakang layar yang paling berpengaruh dalam produksi musik Stars and Rabbit juga tinggal di ibukota. “Didit itu dulu gitarisku di Evo,”tutur Elda. Menurutnya Didit membantunya dan Adi mengeksplorasi musik Stars and Rabbit, membantu mereka menerjemahkan inspirasi-inspirasi yang terkadang absurd, dan mengawal mereka menemukan variasi-variasi yang masih dalam batasan benang merah musik mereka.
Menurut Elda, album pertama Stars and Rabbit akan seperti sebuah buku yang merekam satu fase hidup. Lagu-lagunya bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan album itu akan merangkum kisah-kisah itu seperti buku cerita kumpulan dongeng. “Buku ini harus ditutup dulu. Fase hidup yang itu sudah selesai. Makanya album ini harus dikeluarkan karena saya harus membuat lagu-lagu baru lagi dengan mood baru, dengan lirik-lirik baru…”kata Elda. Merekam jejak langkah sendiri dengan karya memang sudah seperti kewajiban untuk mereka. Mereka sudah ingin segera membuat karya yang baru, yang bercerita tentang fase hidup yang baru, sementara rangkuman kisah hidup yang lama masih harus dipoles, diselesaikan, dan dipersembahkan pada pendengar yang menunggu.
Akan ada 10-12 lagu dalam album pertama mereka. Rencananya, mereka menyelesaikan aransemen lagu di bulan Desember ini. Setelah itu mereka akan memulai pra-produksi di awal tahun depan. “Cari player… cari studio…”tutur Elda dan Adi, menghitung-hitung apa-apa saja yang harus mereka kerjakan. “Kami jalan pelan-pelan, sambil belajar manajemen lah, soalnya kami ngerjain semuanya sendiri.”
Elda Suryani melepaskan diri dari kemapanan major label yang ia jalani bersama Evo, sebuah band all star yang posisi vokalnya ia menangkan di ajang Reinkarnasi di Indosiar lama berselang. Februari 2011 ia bertemu dengan Adi Widodo, dengan siapa ia mulai membuat musik di pertengahan tahun yang sama. Sangat berbeda dengan Evo yang megah dengan attitude rock star, duo ini hanya mengandalkan genjrengan gitar akustik yang mengiringi suatu kisah cinta yang dinyanyikan. Ketika harus diberi nama, mereka menamai unit musik ini Stars and Rabbit. “Sebenarnya itu nama akun twitterku, akun nyampah, yang ngomongin rumput, langit, hutan, hehehe…”aku Elda yang berkicau lewat akun @starsandrabbit itu.
Semua lagu Stars and Rabbit tercipta saat mereka berdua sedang iseng nongkrong berdua. Inspirasi bisa datang dari mana-mana dan kapan saja. Diinterupsi inspirasi bertubi-tubi dari waktu ke waktu pasti melelahkan. Selain kisah hidup yang harus didokumentasikan lewat lagu, mereka juga menyerap berbagai inspirasi nada dari musisi-musisi favorit mereka. Karena terlalu terbuka terhadap influens, Adi merasa bahwa lagu-lagu mereka jadi berbeda satu dengan yang lain. Ia menyebutkan Rabbit Run yang berbeda dari Old Man Finger, Man up on the Hill yang berbeda dari Worth It. Namun mereka memang tidak mau terjebak konsep genre. “Orang-orang menyebut kami folk pop. Mungkin itu yang paling menggambarkan musik kami, walau tidak tepat juga sih.”kata Elda. “Orang boleh nyebut apa aja. Kami hanya ingin main musik.”
Elda dan Adi memang jarang merepotkan diri mencari alasan mengenai keluaran musiknya yang begini atau begitu. Kenaifan dalam bermusik, perasaan yang tidak malu-malu diungkapkan dalam lirik, dan dandanan menggemaskan seperti peri hutan yang cantik menjadi ciri khas yang selalu dinantikan penontonnya. Mungkin kualitas estetis Stars and Rabbit terletak pada kepolosan dan kejujurannya, seperti seekor kelinci yang terpesona memandang bintang-bintang di atas bukit berumput.
Berikut, website dari band indie Bandung ini ^^
Stars And Rabbit - Man Upon The Hill
Hey man upon the hill, up here…I used to write youYou loved the way I watch the sun through my fingerWe spent sometimes to the day we met
Can I fall into your consellation arm?
We drove in the wind, Opened the windowWaved to nothing, Just keep us awake
We drove under the heavy rainSoaking wet yesWe laughed at it yet
So tell me more your constellation arm
And we danced in the roomGrew our heart a bloomI stop right there! You’ve found a new home
I should be happy…
Assalamu Alaikum Wr. Wb
Sudah satu tahun lebih, baru buka blog lagi. Kali ini fitri mau curhat tentang kehidupan pribadi lah. Untuk meresmikan tampilan blog yang baru. Mencoba lebih dewasa setelah membuat blog dengan nama Fiedthree Bieber whahha,, Alay memang untuk tahun 2015. Tapi pada saat 2010 itu sesuatu yang trend hehe..
Yah begitulah zaman,, selalu berubah dari tahun ke tahun. Kalau perkembangannya tidak diikuti. Kita akan dijudge kudet (kurang update). Padahal tidak semua menganggap perkembangan zaman itu penting, karena alasan terlalu sibuk sama pekerjaan atau kegiatan yang padat yang membuat ruang pergaulan kita semakin sempit. Tau tidak, kalau seorang broadcasting TV, Radio, dan film yang jelas berada dalam dunia media kreatif itu juga ada yang kudet?
Nah, kebetulan aku adalah seorang yang bekerja dibidang itu, tepatnya lebih ke dunia pertelevisian. Pengalaman yang kualami selama masuk kuliah disatu satunya pendidikan broadcaster di Makassar pada tahun 2013. Ternyata banyak senior yang termasuk dalam golongan kudet soal berita, perkembangan pendidikan, pergaulan, perkembangan musik yang lagi ngehits dan yang paling parah tentang bahaya yang terjadi di sekitar rumah mereka yang pastinya sudah dimuat di semua media di Indonesia..
Ketika semua orang disekitar kita membahas semua itu, dan kita yang menekuni dibagian media tetapi kita tidak tahu apa apa soal itu,, betapa memalukannya..
Yah,, itu disebabkan karena jadwal kuliah yang terlalu padat, tugas yang begitu banyak dari setiap dosen yang mengharuskan kita untuk tinggal di kampus lebih lama, lebih sibuk, lebih bekerja keras dari anak kuliah kebanyakan. Karena seorang Broadcasting harus membuat tugas mereka dengan pra produksi (perencanaan), produksi (syuting), dan pasca produksi (penyelesaian) dan itu smua tidak dikerjakan di rumah seperti mengerjakan laporan, tesis, atau apalah itu yang tidak di mengerti oleh kami.. kami lebih banyak bekerja di lapangan, panas kepanasan, hujan kehujanan yang harus di selamatkan adalah semua alat produksi untuk kelangsungan hidup yang lebih baik kedepannya (eits,,, jadi curhat sepanjang ini deh soal broadcast..... hehe
Jadi intinya kami jarang menonton TV yang padahal itu pekerjaan masa depan kami... Dan ternyata kejadian ini tidak hanya terjadi di Makassar saja,, tetapi di Jakarta juga, ibukota Indonesia yang dihuni oleh ribuan bahkan jutaan broadcaster yang handal dan bekerja di stasiun TV yang disiarkan di seluruh Indonesia bahkan luar negeri itu juga banyak yang kudet.
Aku sudah magang di Jakarta dan melakukan pengamatan secara diam diam,, hehe. Mereka yang bekerja di stasiun TV lebih sibuk melakukan perkerjaan mereka masing masing di bandingkan menonton tayangan mereka yang di sajikan oleh teman mereka sendiri.. Kalau dipikir, bila mereka lebih mengutamakan menonton ketimbang mengerjakan pekerjaan mereka, lalu siapa yang akan bekerja untuk menyiarkan berita, menyajikan hiburan untuk anak-anak, tutorial memasak dan lain sebagainya.. Bahkan mereka sendiri kurang tahu nama nama artis yang tampil di layar TV tempat mereka seharusnya bekerja sama dengan artis-artis tersebut..
Kalian tahu tidak, mereka menganggap artis itu tidak penting dan tidak untuk di bangga banggakan fotonya. Mereka hanya mencari tahu tentang artis tersebut ketika ingin mengajak mereka bekerja sama.. Pasti sangat berbeda dengan kalian yang sangat jauh jangkauannya dengan artis. Begitu halnya dengan aku, awalnya sangat tergila gila dan ingin berfoto, karena kita menganggap mereka seorang dewa yang di agung agungkan di tv kalian. Tetapi mereka justru menganggap artis itu adalah seorang pekerja yang sama sama mencari uang dengan mereka, dan seharusnya artislah yang berterima kasih atas kerja keras semua crew di setiap stasiun TV yang telah mengorbitkan mereka hingga di kenal banyak orang.. Betulkan??
Orang awam hanya tau artis adalah sesuatu yang bisa di banggakan, di pamer, dan di dewakan oleh fans fanatik.. padahal mereka juga adalah seorang pekerja seni yang sama sama pekerja lainnya hanya saja mereka lebih di kenal banyak orang di bandingkan orang yang mengeksposnya..
pasti orang awam tidak mau tahu dan tidak peduli apa yang dikerjakan oleh crew di belakang layar untuk menyajikan tayangan yang berkualitas dan di sukai oleh setiap orang di Indonesia..
Sadarkah kalian,, crew TV itu lebih lelah di bandingkan seorang artis. karena upah yang mereka dapatkan tidak setimpal dengan pekerjaan dan kerja keras mereka sebagai crew. sangat berbeda dengan artis yang hanya tahu jadinya, yang di perintahan apa yang di lakukan,,
>> To Be Continue
Sudah satu tahun lebih, baru buka blog lagi. Kali ini fitri mau curhat tentang kehidupan pribadi lah. Untuk meresmikan tampilan blog yang baru. Mencoba lebih dewasa setelah membuat blog dengan nama Fiedthree Bieber whahha,, Alay memang untuk tahun 2015. Tapi pada saat 2010 itu sesuatu yang trend hehe..
Yah begitulah zaman,, selalu berubah dari tahun ke tahun. Kalau perkembangannya tidak diikuti. Kita akan dijudge kudet (kurang update). Padahal tidak semua menganggap perkembangan zaman itu penting, karena alasan terlalu sibuk sama pekerjaan atau kegiatan yang padat yang membuat ruang pergaulan kita semakin sempit. Tau tidak, kalau seorang broadcasting TV, Radio, dan film yang jelas berada dalam dunia media kreatif itu juga ada yang kudet?
Nah, kebetulan aku adalah seorang yang bekerja dibidang itu, tepatnya lebih ke dunia pertelevisian. Pengalaman yang kualami selama masuk kuliah disatu satunya pendidikan broadcaster di Makassar pada tahun 2013. Ternyata banyak senior yang termasuk dalam golongan kudet soal berita, perkembangan pendidikan, pergaulan, perkembangan musik yang lagi ngehits dan yang paling parah tentang bahaya yang terjadi di sekitar rumah mereka yang pastinya sudah dimuat di semua media di Indonesia..
Ketika semua orang disekitar kita membahas semua itu, dan kita yang menekuni dibagian media tetapi kita tidak tahu apa apa soal itu,, betapa memalukannya..
Yah,, itu disebabkan karena jadwal kuliah yang terlalu padat, tugas yang begitu banyak dari setiap dosen yang mengharuskan kita untuk tinggal di kampus lebih lama, lebih sibuk, lebih bekerja keras dari anak kuliah kebanyakan. Karena seorang Broadcasting harus membuat tugas mereka dengan pra produksi (perencanaan), produksi (syuting), dan pasca produksi (penyelesaian) dan itu smua tidak dikerjakan di rumah seperti mengerjakan laporan, tesis, atau apalah itu yang tidak di mengerti oleh kami.. kami lebih banyak bekerja di lapangan, panas kepanasan, hujan kehujanan yang harus di selamatkan adalah semua alat produksi untuk kelangsungan hidup yang lebih baik kedepannya (eits,,, jadi curhat sepanjang ini deh soal broadcast..... hehe
Jadi intinya kami jarang menonton TV yang padahal itu pekerjaan masa depan kami... Dan ternyata kejadian ini tidak hanya terjadi di Makassar saja,, tetapi di Jakarta juga, ibukota Indonesia yang dihuni oleh ribuan bahkan jutaan broadcaster yang handal dan bekerja di stasiun TV yang disiarkan di seluruh Indonesia bahkan luar negeri itu juga banyak yang kudet.
Aku sudah magang di Jakarta dan melakukan pengamatan secara diam diam,, hehe. Mereka yang bekerja di stasiun TV lebih sibuk melakukan perkerjaan mereka masing masing di bandingkan menonton tayangan mereka yang di sajikan oleh teman mereka sendiri.. Kalau dipikir, bila mereka lebih mengutamakan menonton ketimbang mengerjakan pekerjaan mereka, lalu siapa yang akan bekerja untuk menyiarkan berita, menyajikan hiburan untuk anak-anak, tutorial memasak dan lain sebagainya.. Bahkan mereka sendiri kurang tahu nama nama artis yang tampil di layar TV tempat mereka seharusnya bekerja sama dengan artis-artis tersebut..
Kalian tahu tidak, mereka menganggap artis itu tidak penting dan tidak untuk di bangga banggakan fotonya. Mereka hanya mencari tahu tentang artis tersebut ketika ingin mengajak mereka bekerja sama.. Pasti sangat berbeda dengan kalian yang sangat jauh jangkauannya dengan artis. Begitu halnya dengan aku, awalnya sangat tergila gila dan ingin berfoto, karena kita menganggap mereka seorang dewa yang di agung agungkan di tv kalian. Tetapi mereka justru menganggap artis itu adalah seorang pekerja yang sama sama mencari uang dengan mereka, dan seharusnya artislah yang berterima kasih atas kerja keras semua crew di setiap stasiun TV yang telah mengorbitkan mereka hingga di kenal banyak orang.. Betulkan??
Orang awam hanya tau artis adalah sesuatu yang bisa di banggakan, di pamer, dan di dewakan oleh fans fanatik.. padahal mereka juga adalah seorang pekerja seni yang sama sama pekerja lainnya hanya saja mereka lebih di kenal banyak orang di bandingkan orang yang mengeksposnya..
pasti orang awam tidak mau tahu dan tidak peduli apa yang dikerjakan oleh crew di belakang layar untuk menyajikan tayangan yang berkualitas dan di sukai oleh setiap orang di Indonesia..
Sadarkah kalian,, crew TV itu lebih lelah di bandingkan seorang artis. karena upah yang mereka dapatkan tidak setimpal dengan pekerjaan dan kerja keras mereka sebagai crew. sangat berbeda dengan artis yang hanya tahu jadinya, yang di perintahan apa yang di lakukan,,
>> To Be Continue





